PROFIL DESA SILURAH

Desa Silurah adalah desa di Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yang terkenal karena nilai sejarah dan budayanya, termasuk penemuan arca dan punden berundak yang diyakini peninggalan Syailendra. Desa ini berlokasi di area perbukitan, memiliki penduduk yang bekerja di sektor pertanian, dan terdiri dari lima dukuh: Dukuh Krajan, Dukuh Pedati, Dukuh Sipodang, Dukuh Batur, dan Dukuh Simangli.

Geografi dan Demografi:

Lokasi: Terletak sekitar 8 km dari pusat pemerintahan Kecamatan Wonotunggal.

Kontur: Berbukit-bukit dengan ketinggian sekitar 750 mdpl.

Batas Wilayah:

Utara: Desa Sodong, Wonotunggal

Timur: Desa Tombo, Bandar

Selatan: Desa Tlogohendro, Petungkriyono (Kabupaten Pekalongan)

Barat: Desa Jolotigo, Talun (Kabupaten Pekalongan)

Penduduk: Berjumlah 1.718jiwa (884laki-laki dan 835perempuan).

Pekerjaan: Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian di bidang pertanian dan perkebunan.

Sejarah dan Budaya:

Peradaban Kuno: Ditemukannya beberapa arca, yaitu Arca Ganesha dan Arca Siwa, sertaPunden Berundak menunjukkan bahwa desa ini pernah menjadi pusat peradaban kuno di Batang, kemungkinan terkait dengan era Syailendra.

Asal-usul Nama: Ada versi yang menyebutkan nama desa ini berasal dari nama kepala desa pertamanya, Ki Lurah.

Tradisi Adat:

Nyadran Gunung Silurah: Tradisi tahunan yang dilaksanakan pada malam Jumat Kliwon di bulan Jumadil Awal untuk keselamatan dan kesejahteraan. Tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Benda Tak Benda (WBTB) Indonesia.

Ider-ider Desa: Ritual keliling desa dengan berdoa untuk menjauhkan malapetaka, dilakukan dengan keadaan suci dan dipimpin oleh sesepuh desa.

Potensi Lain:

Kuliner: Terkenal dengan produk kopi dan minuman lokal seperti Gones. Kopi Silurah merupakan pemasok kopi lokal yang memproduksi dan mengemas berbagai jenis kopi sendiri.

Wisata: Memiliki potensi wisata, termasuk wisata curug, festival jajan kampung, dan pementasan kesenian daerah.

PROFIL ARCA GANESHA DAN SIWA SILURAH

Arca Ganesha

Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang Arca Ganesha Silurah merupakan peninggalan bersejarah dari masa Kerajaan Mataram Kuno (abad VIII–IX Masehi) yang dipahat dari batu andesit setinggi ±110 cm. Ciri khasnya terlihat jelas: kepala gajah dengan gading kanan patah, perut buncit, posisi duduk di atas padmasana (teratai batu), serta empat tangan meski sebagian sudah aus. Dalam tradisi Hindu, Dewa Ganesha dikenal sebagai Dewa kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, dan penyingkir rintangan, sehingga arca ini menjadi simbol pelindung dan penjaga tempat suci. Menurut tradisi lokal, arca ini pernah ditemukan dalam posisi tertelungkup, dimaknai masyarakat sebagai “leluhur yang tengah tidur”. Arca Ganesha menjadi bukti penting penyebaran budaya Hindu di Batang sekaligus ikon pengetahuan dan pelestarian budaya Desa Silurah.

Makna Budaya & Edukatif

Kedua arca ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan simbol identitas lokal Desa Silurah. Nilai historis, religius, dan edukatifnya menjadikan Arca Ganesha dan Siwa sebagai sarana belajar lintas generasi. Melalui media digital seperti Puzzle Edukatif dan Spin Wheel, pengunjung dapat mengenal sejarahnya secara interaktif untuk menjaga warisan leluhur dengan cara yang modern, menarik, dan menyenangkan.

Arca Siwa Silurah

Arca Siwa Silurah Bersebelahan dengan Arca Ganesha di kawasan hutan Silurah Arca Siwa Silurah berukuran lebih kecil, dengan tinggi ±80 cm dan lebar ±50 cm. Arca ini menggambarkan Dewa Siwa, meskipun bagian kepala dan beberapa sisi tubuhnya sudah tidak utuh. Kehadirannya berdampingan dengan Arca Ganesha menandakan bahwa wilayah Silurah dahulu merupakan pusat pemujaan Hindu beraliran Siwaisme. Dewa Siwa sendiri dalam ajaran Hindu melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan alam semesta, sehingga keberadaan arca ini merefleksikan keseimbangan antara kekuatan pencipta dan kebijaksanaan ilahi. Kini, situs Arca Siwa masih dikunjungi sebagian masyarakat untuk ritual dan ziarah, menandakan bahwa nilai spiritualnya masih hidup hingga masa kini.